musik

Senin, 14 Oktober 2013

menjahit luka



Menjahit  Luka
DEFINISI
Penjahitan luka adalah suatu tindakan untuk mendekatkan tepi luka dengan benang sampai sembuh dan cukup untuk menahan beban fisiologis.
INDIKASI
Setiap luka dimana untuk penyembuhannya perlu mendekatkan tepi luka.
LUKA
1.      Definisi
Luka adalah semua kerusakan kontinnuitas jaringan akibat trauma mekanis.
Trauma tajam menyebabkan :
a. luka iris : vulnus scissum/incicivum
b. luka tusuk : vulnus ictum
c. luka gigitan : vulnus morsum
Trauma tumpul menyebabkan :
a. luka terbuka : vulnus apertum
b. luka tertutup : vulnus occlusum ( excoriasi dan hematom )
Luka tembakan menyebabkan : vulnus sclopetorum.
2.      Klasiflkasi luka berdasar ada tidaknya kuman :
a. Luka steril : luka dibuat waktu operasi
b. Luka kontaminasi : luka mengandung kuman tapi kurang dari 8 jam . (golden period)
c.  Luka infeksi luka yang mengandung kuman dan telah berkembangbiak dan telah timbul gejala lokal maupun gejala umum.(rubor, dolor, calor, tumor, fungsio lesa).


PENGENALAN ALAT DAN BAHAN PENJAHITAN
Alat dan bahan yang diperlukan pada penjahitan luka :
Alat (Instrumen)
a.       Tissue forceps ( pinset ) terdiri dari dua bentuk yaitu tissue forceps bergigi ujungnya ( surgical forceps) dan tanpa gigi di ujungnya yaitu atraumatic tissue forceps dan dressing forceps.
b.      Scalpel handles dan scalpel blades
c.       Dissecting scissors ( Metzen baum )
d.      Suture scissors
e.       Needleholders
f.       Suture needles ( jarum ) dari bentuk 2/3 circle, Vi circle , bentuk segitiga dan bentuk bulat
g.      Sponge forceps (Cotton-swab forceps)
h.      Hemostatic forceps ujung tak bergigi ( Pean) dan ujung bergigi (Kocher)
i.        Retractors, double ended
j.        Towel clamps
Bahan
a.       Benang (jenis dan indikasi dijelaskan kemudian )
b.      Cairan desifektan : Povidon-iodidine 10 % (Bethadine)
c.       Cairan Na Cl 0,9% dan perhydrol 5 % untuk mencuci luka.
d.      Anestesi lokal lidocain 2%.
e.       Sarung tangan.
f.       Kasa steril.
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/tissue-forceps.jpg?w=510
tissue forceps
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/scalpel-handles1.jpg?w=510
scalpel handles
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/dissecting-scissors.jpg?w=510
dissecting scissors

http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/suture-scissors2.jpg?w=510
suture scissors
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/needleholder.jpg?w=510
needle holder

http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/suture-needles.jpg?w=510
suture needles
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/sponge-forceps.jpg?w=510
sponge forceps
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/hemostatic-forceps2.jpg?w=422&h=614
hemostatic forceps
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/retractors2.jpg?w=510
retractors
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/towel-clamps.jpg?w=510
towel clamps
CARA MEMEGANG ALAT
a.       Instrument tertentu seperti pemegang jarum, gunting dan pemegang kasa: yaitu ibu jari dan jari keempat sebagai pemegang utama, sementara jari kedua dan ketiga dipakai untuk memperkuat pegangan tangan. Untuk membuat simpul benang setelah jarum ditembuskan pada jaringan, benang dilingkarkan pada ujung pemegang jarum.
b.      Pinset lazim dipegang dengan tangan kiri, di antara ibujari serta jari kedua dan ketiga. Jarum dipegang di daerah separuh bagian belakang .
c.       Sarung tangan dipakai menurut teknik tanpa singgung.  
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/cara-memegang-alat.png?w=510
cara memegang alat



PERSIAPAN ALAT
Sterilisasi dan cara sterilisasi
Sterilisasi adalah tindakan untuk membuat suatu alat-alat atau bahan dalam keadaan steril.
Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara :
a.       Secara kimia : yaitu dengan bahan yang bersifat bakterisid , seperti formalin, savlon, alkohol.
b.      Secara fisik yaitu dengan :
1.      Panas kering ( oven udara panas )
♦ Selama 20 menit pada 200° C
♦ Selama 30 menit pada 180° C
♦ Selama 90 menit pada 160° C
2.      Uap bertekanan ( autoclave): selama 15 menit pada 120° C dan tekanan 2 atmosfer
3.      Panas basah, yaitu di dalam air mendidih selama 30 menit. Cara ini hanya dianjurkan bila cara lain tidak tersedia.
Pengepakan
Sebelum dilakukan sterilisasi secara fisik, semua instrument harus dibungkus dengan dua lapis kain secara rapat yang diikutkan dalam proses sterilisasi. Pada bagian luar pembungkus , ditempelkan suatu indikator ( yang akan berubah warna ) setelah instrument tersebut menjadi steril. Untuk mempertahankan agar instrument yang dibungkus tetap dalam keadaan steril, maka kain pembungkus dibuka menurut” teknik tanpa singgung.

JENIS-JENIS BENANG
Benang yang dapat diserap (Absorbable Suture )
a. Alami ( Natural)
1.      Plain Cat Gut dibuat dari bahan kolagen sapi atau domba. Benang ini hanya memiliki daya serap pengikat selama 7-19 hari dan akan diabsorbsi secara sempurna dalam waktu 70 hari.
2.      Chromic Cat Gut dibuat dari bahan yang sama dengan plain cat gut , namum dilapisi dengan garam Chromium untuk memperpanjang waktu absorbsinya sampai 90 hari.
b. Buatan ( Synthetic )

Adalah benang- benang yang dibuat dari bahan sintetis, seperti Polyglactin ( merk dagang Vicryl atau Safil), Polyglycapron ( merk dagang Monocryl atau Monosyn), dan Polydioxanone ( merk dagang PDS II ). Benang jenis ini memiliki daya pengikat lebih lama , yaitu 2-3 minggu, diserap secara lengkap dalam waktu 90-120 hari.
Benang yang tak dapat diserap ( nonabsorbable suture )
a.      Alamiah ( Natural)
Dalam kelompok ini adalah benang silk ( sutera ) yang dibuat dari protein organik bernama fibroin, yang terkandung di dalam serabut sutera hasil produksi ulat sutera.
b.      Buatan ( Synthetic )
Dalam kelompok ini terdapat benang dari bahan dasar nylon (merk dagang Ethilon atau Dermalon). Polyester (merk dagang Mersilene) dan Poly propylene (merk dagang  Prolene).
PERSIAPAN PENJAHITAN ( KULIT)
a.       Rambut sekitar tepi luka dicukur sampai bersih.
b.      Kulit dan luka didesinfeksi dengan cairan Bethadine 10%, dimulai dari bagian tengah kemudian menjauh dengan gerakan melingkar.
c.       Daerah operasi dipersempit dengan duk steril, sehingga bagian yang terbuka hanya bagian kulit dan luka yang akan dijahit.
d.      Dilakukan anestesi local dengan injeksi infiltrasi kulit sekitar luka.
e.       Luka dibersihkan dengan cairan perhydrol dan dibilas dengan cairan NaCl.
f.       Jaringan kulit, subcutis, fascia yang mati dibuang dengan menggunakan pisau dan gunting.
g.      Luka dicuci ulang dengan perhydrol dan dibilas dengan NacCl.
h.      Jaringan subcutan dijahit dengan benang yang dapat diserap yaitu plain catgut atau poiiglactin secara simple interrupted suture. i. Kulit dijahit benang yang tak dapat diserap yaitu silk atau nylon.



TEKNIK PENJAHITAN KULIT
Prinsip yang harus diperhatikan :
a.       Cara memegang kulit pada tepi luka dengan surgical forceps harus dilakukan secara halus dengan mencegah trauma lebih lanjut pada jaringan tersebut.
b.      Ukuran kulit yang yang diambil dari kedua tepi luka harus sama besarnya.
c.       Tempat tusukan jarum sebaiknya sekitar 1-3 cm dari tepi lukia.Khusus” daerah wajah 2-3mm.
d.      Jarak antara dua jahitan sebaiknya kurang lebih sama dengan tusukan jarum dari tepi luika.
e.       Tepi luka diusahakan dalam keadaan terbuka keluar ( evferted ) setelah penjahitan.
SIMPLE INTERUPTED SUTURE
a.       Indikasi: pada semua luka
Kontra indikasi : tidak ada Teknik penjahitan
Dilakukan sebagai berikut:
1.      Jarum ditusukkan pada kulit sisi pertama dengan sudut sekitar 90 derajat, masuk subcutan terus kekulit sisi lainnya.
2.      Perlu diingat lebar dan kedalam jaringan kulit dan subcutan diusahakan agar tepi luka yang dijahit dapat mendekat dengan posisi membuka kearah luar ( everted).
3.      Dibuat simpul benang dengan memegang jarum dan benang diikat.
4.      Penjahitan dilakukan dari ujung luka keujung luka yang lain.
b.      Indikasi : Luka pada persendian
Luka pada daerah yang tegangannya besar
Kontra indikasi : tidak ada
Teknik penjahitan ini dilakukan untuk mendapatkan eversi tepi luka dimana tepinya cenderung mengalami inverse. misalnya kulit yang tipis. Teknik ini dilakukan sebagai berikut:
1.      Jarum ditusukkan jauh dari kulit sisi luka, melintasi luka dan kulit sisi lainnya, kemudian keluar pada kulit tepi yang jauh, sisi yang kedua.
2.      Jarum kemudian ditusukkan kembali pada tepi kulit sisi kedua secara tipis, menyeberangi luka dan dikeluarkan kembali pada tepi dekat kulit sisi yang pertama.
3.      Dibuat simpul dan benang diikat.
SUBCUTICULER CONTINUOS SUTURE
a.       Indikasi : Luka pada daerah yang memerlukan kosmetik
Kontra indikasi : jaringan luka dengan tegangan besar.
Pada teknik ini benang ditempatkan bersembunyi di bawah jaringan dermis sehingga yang terlihat hanya bagian kedua ujung benang yang terletak di dekat kedua ujung luka yang dilakukan sebagai berikut :
1.      Tusukkan jarum pada kulit sekitar 1-2 cm dari ujung luka keluar di daerah dermis kulit salah satu dari tepi luka.
2.      Benang kemudian dilewatkan pada jaringan dermis kulit sisi yang lain, secara bergantian
terus menerus sampai pada ujung luka yang lain, untuk kemudian dikeluarkan pada kulit 1-2 cm dari ujung luka yang lain. Dengan demikian maka benang berjalan menyusuri kulit pada kedua sisi secara parallel disepanjang luka tersebut.
JAHITAN PENGUNCI (FESTON)
a.       Indikasi : Untuk menutup peritoneum
Mendekati variasi kontinyu (lihat gambar)
http://ratihastarida.files.wordpress.com/2010/04/jenis-jahitan.png?w=510
jenis jahitan
PENGANGKATAN JAHITAN / UP HECTING
A.    Pengertian
Membuka jahitan adalah tindakan untuk mengangkat atau membuka jahitan pada luka yang dijahit. Guna dari mengangkat jahitan adalah untuk mencegah timbulnya infeksi silang dan mempercepat proses penyembuhan.
Mengangkat jahitan ini dilakukan pada :
1.   Luka operasi yang sudah sudah waktunya diangkat.
2.   Luka pasca bedah yang sudah sembuh.
3.   Luka infeksi oleh karena jahitan.
B.     Persiapan alat
Alat – alat yang harus disiapkan untuk mengangkat jahitan adalah :
1.      Bak instrumen steril yang berisi :
a.       Pincet cirrurgis
b.      Pincet anatomis
c.       Gunting angkat jahit
d.      Kassa steril
e.       Lidi kapas
f.       Mangkok steril
g.      Gunting perban atau plester
h.      Bengkok
i.        Bensin
j.        Larutan H2O2, savlon/lisol atau larutan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan.
k.      Obat luka
l.        Handscoon steril
m.    Sketzel atau sampiran
n.      Cara kerja




Tahap orientasi
1.      Beri salam
2.      Memberi tahu dan menjelaskan cara kerja atau prosedur kepada pasien (infomed concent).
Tahap pelaksanaan
1.      Cuci tangan
2.      Memasang sketzel/sampiran
3.      Mengatur posisi pasien.
4.      Mendekatkan alat di dekat pasien atau tempat yang mudah dijangkau.
5.      Membuka bak instrument
6.      Memakai handscoon
7.      Membuka balutan dengan menggunakan pincet anatomis dan diletakkan kedalam bengkok, bekas plester dibersihkan dengan bensin menggunakan lidi kapas.
8.      Mengolesi luka dengan alkohol 70 %, kemudian luka diolesi dengan NaCl atau larutan yang dibutuhkan.
9.      Mengangkat simpul menggunakan pinset cirrurgis dan benang jahitan digunting dibawah simpul kemudian ditarik. Bekas benang diletakkan pada kassa.
10.  Menekan luka dengan kassa bila ada pus atau nanah. Bila ada dibersihkan dengan larutan H2O2 kemudian dibilas dengan NaCl.
11.  Luka dikeringkan, ditutup dengan kassa steril dan diplester.
12.  Alat – alat dibersihkan
13.  Cuci tangan
Dokumentasi
Dalam mendokumentasikan tindakan, dicatat :
1.      Memperhatikan reaksi dan respon pasien.
2.      Mencatat keadaan luka, bekas jahitan, jumlah jahitan yang diangkat.


DAFTAR PUSTAKA
Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika
Bobak, K. Jensen. 2005. Perawatan Maternitas. Jakarta: EGC.
Dudley HAF, Eckersley JRT, Paterson-Brown S. 2000. Pedoman Tindakan Medik dan Bedah. Jakarta: EGC.
Effendy, Christantie dan Ag. Sri Oktri Hastuti. 2005. Kiat Sukses menghadapi Operasi. Yogyakarta: Sahabat Setia.
Potter & Perry. 2005. Bu

Senin, 30 September 2013

Pembalutan dan Pembidaian

PEMBALUTAN
Membalut adalah tindakan medis untuk menyangga atau menahan bagian tubuh tertentu agar tidak bergeser atau berubah dari posisi yang dikehendaki.
TUJUAN
1. menahan sesuatu – misalnya bidai (spalk), kasa penutup luka, dan sebagainya – agar tidak bergeser dari tempatnya
2. menahan pembengkakan (menghentikan pendarahan: pembalut tekanan)
3. menunjang bagian tubuh yang cedera
4. menjaga agar bagian yang cedera tidak bergerak
5. menutup bagian tubuh agar tidak terkontaminasi.
MACAM
1. Mitella (pembalut segitiga)
2. Dasi (cravat)
3. Pita (pembalut gulung)
4. Plester (pembalut berperekat)
5. Pembalut lainnya
6. Kassa steril
A.    MITELLA (pembalut segitiga)
Bahan pembalut dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan berbagai ukuran. Panjang kaki antara 50-100 cm. Pembalut ini biasa dipakai pada cedera di kepala, bahu, dada, siku, telapak tangan, pinggul, telapak kaki, dan untuk menggantung lengan. Dapat dilipat-lipat sejajar dengan alasnya dan menjadi pembalut bentuk dasi.
B.     DASI (cravat)
Merupakan mitella yang dilipat-lipat dari salah satu ujungnya sehingga berbentuk pita dengan kedua ujung-ujungnya lancip dan lebarnya antara 5-10 cm. Pembalut ini biasa dipergunakan untuk membalut mata, dahi (atau bagian kepala yang lain), rahang, ketiak, lengan, siku, paha, lutut, betis, dan kaki yang terkilir.
Cara membalut:
1.      Bebatkan pada tempat yang akan dibalut sampai kedua ujungnya dapat diikatkan
2.      Diusahakan agar balutan tidak mudah kendor, dengan cara sebelum diikat arahnya saling menarik
3.      Kedua ujung diikatkan secukupnya.
C.     PITA (pembalut gulung)
Dapat terbuat dari kain katun, kain kasa, flanel atau bahan elastis. Yang paling sering adalah kasa. Hal ini dikarenakan kasa mudah menyerap air dan darah, serta tidak mudah kendor.
Macam ukuran lebar pembalut dan penggunaannya:
1.      2,5 cm : untuk jari-jari
2.      5 cm : untuk leher dan pergelangan tangan
3.      7,5 cm : untuk kepala, lengan atas, lengan bawah, betis dan kaki
4.      10 cm : untuk paha dan sendi pinggul
5.      10-15 cm : untuk dada, perut dan punggung.
Cara membalut anggota badan (tangan/kaki):
1.      Sangga anggota badan yang cedera pada posisi tetap
2.      Pastikan bahwa perban tergulung kencang
3.      Balutan pita biasanya beberapa lapis, dimulai dari salah satu ujung yang diletakkan dari proksimal ke distal menutup sepanjang bagian tubuh, yang akan dibalut dari distal ke proksimal (terakhir ujung yang dalam tadi diikat dengan ujung yang lain secukupnya). Atau bisa dimulai dari bawah luka (distal), lalu balut lurus 2 kali.
4.      Dibebatkan terus ke proksimal dengan bebatan saling menyilang dan tumpang tindih antara bebatan yang satu dengan bebatan berikutnya. Setiap balutan menutupi duapertiga bagian sebelumnya.
5.      Selesaikan dengan membuat balutan lurus, lipat ujung perban, kunci dengan peniti atau jepitan perban.
D.    PLESTER (pembalut berperekat)
Pembalut ini untuk merekatkan penutup luka, untuk fiksasi pada sendi yang terkilir, untuk merekatkan pada kelainan patah tulang. Cara pembidaian langsung dengan plester disebut strapping. Plester dibebatkan berlapis-lapis dari distal ke proksimal dan untuk membatasi gerakan perlu pita yang masing-masing ujungnya difiksasi dengan plester. Untuk menutup luka yang sederhana dapat dipakai plester yang sudah dilengkapi dengan kasa yang mengandung antiseptik (Tensoplast, Band-aid, Handyplast dsb).
Cara membalut luka terbuka dengan plester:
1.      luka diberi antiseptik
2.      tutup luka dengan kassa
3.      baru letakkan pembalut plester.
E.     PEMBALUT LAINNYA
Snelverband:
pembalut pita yang sudah ditambah kasa penutup luka, dan steril. Baru dibuka saat akan digunakan, sering dipakai untuk menutup luka-luka lebar.
Sofratulle:
kasa steril yang sudah direndam dalam antibiotika. Digunakan untuk menutup luka-luka kecil.
Kassa steril
Kasa steril ialah potongan-potongan pembalut kasa yang sudah disterilkan dan dibungkus sepotong demi sepotong. Pembungkus tidak boleh dibuka sebelum digunakan. Digunakan untuk menutup luka-luka kecil yang sudah didisinfeksi atau diobati (misalnya sudah ditutupisofratulle), yaitu sebelum luka dibalut atau diplester.

Prosedur Pembalutan:
A.    Perhatikan tempat atau letak bagian tubuh yang akan dibalut dengan menjawab pertanyaan ini:
a.       Bagian dari tubuh yang mana? (untuk menentukan macam pembalut yang digunakan dan ukuran pembalut bila menggunakan pita)
b.      Luka terbuka atau tidak? (untuk perawatan luka dan menghentikan perdarahan)
c.       Bagaimana luas luka? (untuk menentukan macam pembalut)
d.      Perlu dibatasi gerak bagian tubuh tertentu atau tidak? (untuk menentukan perlu dibidai/tidak?)
B.     Pilih jenis pembalut yang akan digunakan. Dapat satu atau kombinasi.
C. Sebelum dibalut, jika luka terbuka perlu diberi desinfektan atau dibalut dengan pembalut yang mengandung desinfektan. Jika terjadi disposisi/dislokasi perlu direposisi. Urut-urutan tindakan desinfeksi luka terbuka:
a.       Letakkan sepotong kasa steril di tengah luka (tidak usah ditekan) untuk melindungi luka selama didesinfeksi.
b.      Kulit sekitar luka dibasuh dengan air, disabun dan dicuci dengan zat antiseptik.
c.       Kasa penutup luka diambil kembali. Luka disiram dengan air steril untuk membasuh bekuan darah dan kotoran yang terdapat di dalamnya.
d.      Dengan menggunakan pinset steril (dibakar atau direbus lebih dahulu) kotoran yang tidak hanyut ketika disiram dibersihkan.
e.       Tutup lukanya dengan sehelai sofratulle atau kasa steril biasa. Kemudian di atasnya dilapisi dengan kasa yang agak tebal dan lembut.
f.       Kemudian berikan balutan yang menekan. Apabila terjadi pendarahan, tindakan penghentian pendarahan dapat dilakukan dengan cara:
1.      Pembalut tekan, dipertahankan sampai pendarahan berhenti atau sampai pertolongan yang lebih mantap dapat diberikan.
2.      Penekanan dengan jari tangan di pangkal arteri yang terluka. Penekanan paling lama 15 menit.
3.      Pengikatan dengan tourniquet.
a.       Digunakan bila pendarahan sangat sulit dihentikan dengan cara biasa.
b.      Lokasi pemasangan: lima jari di bawah ketiak (untuk pendarahan di lengan) dan lima jari di bawah lipat paha (untuk pendarahan di kaki)
c.       Cara: lilitkan torniket di tempat yang dikehendaki, sebelumnya dialasi dengan kain atau kasa untuk mencegah lecet di kulit yang terkena torniket. Untuk torniket kain, perlu dikencangkan dengan sepotong kayu. Tanda torniket sudah kencang ialah menghilangnya denyut nadi di distal dan kulit menjadi pucat kekuningan.
d.      Setiap 10 menit torniket dikendorkan selama 30 detik, sementara luka ditekan dengan kasa steril.
g.      Elevasi bagian yang terluka
D.    Tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan:
1.      Dapat membatasi pergeseran/gerak bagian tubuh yang memang perlu difiksasi
2.      Sesedikit mungkin membatasi gerak bgaian tubuh yang lain
3.      Usahakan posisi balutan paling nyaman untuk kegiatan pokok penderita.
4.      Tidak mengganggu peredaran darah, misalnya balutan berlapis, yang paling bawah letaknya di sebelah distal.
5.      Tidak mudah kendor atau lepas.


PEMBIDAIAN
Bidai atau spalk adalah alat dari kayu, anyaman kawat atau bahan lain yang kuat tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian tulang yang patah tidak bergerak (immobilisasi), memberikan istirahat dan mengurangi rasa sakit. Maksud dari immobilisasi adalah:
1.      Ujung-ujung dari ruas patah tulang yang tajam tersebut tidak merusak jaringan lemah, otot-otot, pembuluh darah, maupun syaraf.
2.      Tidak menimbulkan rasa nyeri yang hebat, berarti pula mencegah terjadinya syok karena rasa nyeri yang hebat.
3.      Tidak membuat luka terbuka pada bagian tulang yang patah sehingga mencegah terjadinya indfeksi tulang.
Pembidaian tidak hanya dilakkukan untuk immobilisasi tulang yang patah tetapi juga untuk sendi yang baru direposisi setelah mengalami dislokasi. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor sehingga gampang mengalami dislokasi kembali, untuk itu setelah diperbaiki sebaiknya untuk sementara waktu dilakukan pembidaian.
Prinsip pembidaian
1.      Lakukan pembidaian di mana anggota badan mengalami cedera (korban jangan dipindahkan sebelum dibidai). Korban dengan dugaan fraktur lebih aman dipindahkan ke tandu medis darurat setelah dilakukan tindakan perawatan luka, pembalutan dan pembidaian.
2.      Lakukan juga pembidaian pada persangkaan patah tulang, jadi tidak perlu harus dipastikan dulu ada tidaknya patah tulang. Kemungkinan fraktur harus selalu dipikirkan setiap terjadi kecelakaan akibat benturan yang keras. Apabila ada keraguan, perlakukan sebagai fraktur.
Tanda dan gejala patah tulang:
a.       Adanya tanda ruda paksa pada bagian tubuh yang diduga terjadi patah tulang: pembengkakan, memar, rasa nyeri.
b.      Nyeri sumbu: apabila diberi tekanan yang arahnya sejajar dengan tulang yang patah akan memberikan nyeri yang hebat pada penderita.
c.       Deformitas: apabila dibandingkan dengan bagian tulang yang sehat terlihat tidak sama bentuk dan panjangnya.
d.      Bagian tulang yang patah tidak dapat berfungsi dengan baik atau sama sekali tidak dapat digunakan lagi.
3.      Melewati minimal dua sendi yang berbatasan.
Prosedur Pembidaian
1.      Siapkan alat-alat selengkapnya
2.      Apabila penderita mengalami fraktur terbuka, hentikan perdarahan dan rawat lukanya dengan cara menutup dengan kasa steril dan membalutnya.
3.      Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang, diukur dahulu pada sendi yang sehat.
4.      Bidai dibalut dengan pembalut sebelum digunakan. Memakai bantalan di antara bagian yang patah agar tidak terjadi kerusakan jaringan kulit, pembuluh darah, atau penekanan syaraf, terutama pada bagian tubuh yang ada tonjolan tulang.
5.      Mengikat bidai dengan pengikat kain (dapat kain, baju, kopel, dll) dimulai dari sebelah atas dan bawah fraktur. Tiap ikatan tidak boleh menyilang tepat di atas bagian fraktur. Simpul ikatan jatuh pada permukaan bidainya, tidak pada permukaan anggota tubuh yang dibidai.
6.      Ikatan jangan terlalu keras atau kendor. Ikatan harus cukup jumlahnya agar secara keseluruhan bagian tubuh yang patah tidak bergerak.
7.      Kalau memungkinkan anggota gerak tersebut ditinggikan setelah dibidai.
8.      Sepatu, gelang, jam tangan dan alat pengikat perlu dilepas.



Daftar Pustaka
Anonim. 2009. Pembidaian Teori, Tujuan, Cara dan Komplikasi Pembidaian (diakses dari http://blog.ilmukeperawatan.com/pembidaian-teori-tujuan-cara-dan-komplikasi-pembidaian.html tanggal 31 Mei 2012).
Arief, Muhammad. 2008. Pembalutan dan Pembidaian dalam P3K (diakses dari http://ariefboy.multiply.com/links/item/21/PEMABALUTAN_DAN_PEMBIDAIAN_DALAM_P3K tanggal 31 Mei 2012).

Azzam, Rohman. 2008. Fraktur dan Dislokasi (diakses dari http://kegawatdaruratan.blogspot.com/2008/02/fraktur-dan-dislokasi.html tanggal 31 Mei 2012).